Terlihat Canggih, Tapi Berbahaya? Ini Bahaya AI Dalam Membuat Password
Pakar keamanan siber memperingatkan risiko menggunakan AI untuk membuat password, simak bahaya tersembunyi, potensi kebocoran data.
Di era digital yang serba cepat, kecerdasan buatan (AI) semakin sering dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan mulai dari menulis email hingga membuat kode program. Tak sedikit orang kini juga mengandalkan AI untuk membuat password dengan alasan praktis dan cepat. Namun, para ahli keamanan siber mengingatkan bahwa kebiasaan ini justru bisa membuka celah berbahaya.
Simak informasi lainya yang lagi menggemparkan masyarakat tentang penipuan online hanya ada di Lapor Situs BO Penipu.
AI Cenderung Menghasilkan Pola Yang Bisa Diprediksi
Meskipun terlihat acak, AI pada dasarnya bekerja berdasarkan pola dan data yang dipelajarinya. Ketika diminta membuat password yang “kuat”, sistem AI sering menghasilkan kombinasi yang memenuhi standar umum campuran huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol tetapi tetap dalam struktur yang mirip satu sama lain.
Peretas modern memahami cara kerja model bahasa dan generator teks. Mereka tahu bahwa AI biasanya menyusun kata sandi berdasarkan pola tertentu seperti mengganti huruf dengan angka atau menambahkan simbol di akhir kata. Pola-pola seperti ini justru menjadi target utama dalam teknik brute force modern.
Akibatnya, password yang tampak rumit belum tentu benar-benar aman. Jika banyak orang menggunakan AI yang sama untuk menghasilkan kata sandi, kemungkinan munculnya pola serupa menjadi semakin besar, sehingga mempersempit ruang variasi yang sebenarnya dibutuhkan untuk keamanan maksimal.
Risiko Kebocoran Data dari Prompt yang Diberikan
Banyak pengguna tanpa sadar memberikan informasi pribadi saat meminta AI membuat password. Misalnya, dengan menulis prompt seperti, “Buatkan password dari nama saya dan tanggal lahir saya agar mudah diingat.” Permintaan semacam ini justru berbahaya.
Informasi yang dimasukkan ke dalam sistem AI berpotensi tersimpan dalam riwayat percakapan atau log server, tergantung pada kebijakan platform yang digunakan. Meski penyedia layanan biasanya memiliki standar keamanan tinggi, tetap ada risiko kebocoran akibat serangan siber atau kesalahan sistem.
Selain itu, jika seseorang menggunakan perangkat publik atau jaringan yang tidak aman saat mengakses AI, data yang diketik bisa saja terpapar. Artinya, niat untuk membuat password yang “aman” justru berubah menjadi pintu masuk kebocoran informasi sensitif.
Baca Juga: Waspada! Penipuan Online Akun Palsu dan Phishing Semakin Canggih
Ketergantungan Berlebihan Mengurangi Kesadaran Keamanan
Mengandalkan AI sepenuhnya bisa membuat pengguna kehilangan pemahaman dasar tentang keamanan digital. Padahal, memahami prinsip dasar pembuatan password adalah keterampilan penting di era internet.
Ketika semua diserahkan pada AI, pengguna cenderung tidak lagi memeriksa kekuatan password secara mandiri. Mereka percaya begitu saja bahwa hasil dari sistem otomatis sudah pasti aman, tanpa mempertimbangkan konteks penggunaan atau tingkat sensitivitas akun yang dilindungi.
Ketergantungan ini juga membuat orang malas memperbarui password secara berkala. Mereka mungkin berpikir, “Kalau AI yang membuat, pasti sudah aman,” padahal keamanan siber bersifat dinamis dan terus berkembang mengikuti ancaman terbaru.
AI Bukan Pengganti Password Manager
Sebagian orang menggunakan AI sebagai alternatif password manager. Padahal, keduanya memiliki fungsi yang berbeda. AI dirancang untuk menghasilkan teks atau jawaban, bukan untuk menyimpan dan mengelola kredensial secara terenkripsi.
Password manager profesional menggunakan enkripsi tingkat tinggi dan dirancang khusus untuk menyimpan kata sandi dengan aman. Beberapa bahkan menawarkan fitur autentikasi dua faktor dan peringatan jika terjadi kebocoran data.
Sebaliknya, AI hanya menghasilkan saran. Jika password tersebut disalin dan disimpan sembarangan misalnya di catatan ponsel tanpa perlindungan tambahan maka risiko peretasan tetap tinggi. Menggunakan AI tanpa sistem pengelolaan yang aman sama saja dengan menaruh kunci rumah di bawah keset.
Cara Aman Membuat Password di Era AI
Bukan berarti AI sama sekali tidak boleh digunakan. Namun, pengguna perlu memahami batasannya. Jika ingin memanfaatkan AI, gunakan hanya untuk menghasilkan kombinasi acak tanpa memasukkan informasi pribadi apa pun.
Cara yang lebih aman adalah membuat password panjang, minimal 12–16 karakter, dengan kombinasi acak yang benar-benar tidak terkait dengan identitas pribadi. Hindari penggunaan nama, tanggal lahir, atau kata umum yang mudah ditebak.
Langkah terbaik tetap menggunakan password manager terpercaya yang mampu menghasilkan dan menyimpan password secara otomatis. Ditambah dengan autentikasi dua faktor (2FA), lapisan keamanan akun akan jauh lebih kuat dibanding hanya mengandalkan hasil generator AI.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari detikcom
- Gambar Kedua dari Tren Media